WWR_1994_02_20_JP Kalam dan Perbincangan Posmo-c
“Ariel Heryanto; Kalam dan Perbincangan Posmo”, wawancara, Jawa Pos, 1994_02_20: 8.
kata kunci: Goenawan Mohamad,hak asasi, postmodernisme, UKSW
WWR_1994_02_20_JP Kalam dan Perbincangan Posmo-c
“Ariel Heryanto; Kalam dan Perbincangan Posmo”, wawancara, Jawa Pos, 1994_02_20: 8.
kata kunci: Goenawan Mohamad,hak asasi, postmodernisme, UKSW
WWR_1994_01_04_DeTIK Tak Ada larangan Posmo-c
“Dan kalau kita bilang post modernism itu dari Barat, memang betul dari Barat. Tapi, yang kita baca sekarang itu bukan hanya dari Barat. Kita baca dari India, kita baca dari Malaysia, kita baca dari Amerika Latin, Afrika: semua membicarakan post modernism sekarang dengan wama lokal yang berbeda-beda.”
“Tak Ada larangan Orang Ikut-ikutan Posmo”, wawancara, DeTIK, No043, ThXVII, 4 Januari 1994
kata kunci: demokratisasi, kebudayaan, kekerasan, modernisasi, modernitas, postmodernisme, santet
Klik 2016_07_21_CNN Menghormati Keputusan Pengadilan Rakyat 1965-c
Banjir darah 1965 di Indonesia terjadi berkat restu dan dukungan berbagai pihak asing terhadap para penjagal sebagian warga Indonesia terhadap saudara sebangsa setanah air. Pembantaian itu sebelumnya didorong oleh konflik politik dalam negeri, yang pada gilirannya berinduk pada konflik global bernama Perang Dingin.
Aneh, jika penyelesaian kasus 1965 dianggap sebagai monopoli Indonesia, dikurung dalam sangkar bernama ‘urusan dalam negeri’ yang tidak perlu atau tidak boleh melibatkan pandangan dan tanggung jawab atau kerjasama ‘pihak asing’.
Heryanto, Ariel (2016) “Menghormati Keputusan Pengadilan Rakyat 1965”, CNN Indonesia, 21/07/2016, http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160721090759-21-146043/menghormati-keputusan-pengadilan-rakyat-1965/
kata kunci: anti-asing, Hindia Belanda, IPT 1965, kolonial, penyangkalan
BR_1996_09_05_R Fiksi dalam Teks Sastra-c
“Fiksi dalam Teks Sastra Hidup dalam Masyarakat”, Republika, 05/09/1996.
kata kunci: fiksi, HISKI, marginal, Melani Budianta, pemilu, sastra, Seno Gumira Ajidarma
Kerukunan kelas atas dan ketenteraman kelas menengah merupakan kunci stabilitas. Tak ada perubahan sosial tanpa keretakan elite. Yang dapat diharapkan dari propaganda adalah agar mereka yang makan gaji dari ketimpangan tata-sosial tidak melihat ketimpangan itu.
Heryanto, Ariel (1996) “Propaganda”, Forum Keadilan, Th. V, No. 14, 21 Oktober 1996, hal. 56.
kata kunci: antikomunisme, slogan, pendidikan, kelas sosial
Klik 2016_05_10_CNN Kapan Kambuhnya Bahaya PKI-c
Peringatan akan bahaya komunis di masa ini dianggap berlebihan oleh banyak pihak. Mereka menertawakannya sebagai ketololan yang sangat konyol. Sebagian dari yang geli tampaknya jadi usil membuat gambar palu-arit, sekedar untuk mengolok-olok ketololan itu.
Apakah masalahnya hanya berhenti di situ? Hanya ketololan yang disambut keusilan? Menurut saya tidak. Kambuhnya beberapa isu politik seperti “bahaya Komunis” penting. Ia ibarat sirine yang menandakan memanasnya gesekan di kalangan elite politik.
Heryanto, Ariel (2016) “Kapan Kambuhnya Bahaya PKI?”, CNN Indonesia, 10/05/2016, http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160510094659-21-129620/kapan-kambuhnya-bahaya-pki/
kata kunci: 1988, bahaya Komunis, Cina, konflik elite, PKI
Kerangka berpikir “1965-sebagai-konflik-horisontal” tidak saja membebaskan Negara dari gugatan politik, moral, kultural, dengan atau tanpa gugatan legal, sebagai penanggung-jawab terbesar banjir darah 1965. Bila kita mereproduksi kerangka berpikir itu, kita ikut meneruskan tradisi Orde Baru mengadu-domba antar golongan dalam masyarakat.
Heryanto, Ariel (2016) “Negara dan Maaf 1965”, Tempo, 8/05/2016: 90-91.
kata kunci: 1965, korban, maaf, negara, konflik horizontal, Simposium
2016_04_26 CNN Negara Jangan Cuci Tangan-c
“Sudah saatnya khalayak Indonesia membedakan dan memahami kaitan antara bangsa, negara, dan sebuah pemerintahan. Pemahaman minim dan mendasar demikian bisa membantu mengurangi banyak dan parahnya salah kaprah dalam perbincangan tentang kekejaman sejak Oktober 1965 maupun berbagai kekerasan massal lain.”
Heryanto, Ariel (2016) “Negara Jangan Cuci Tangan”, CNN Indonesia, 26/04/2016, http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160426085258-21-126499/negara-jangan-cuci-tangan/
kata kunci: bangsa, konflik horizontal, kejahatan vertikal, negara, pemerintah, Jokowi simposium 1965
2016_04_20 CNN Mencoba Berdamai dengan Sejarah Kelam-c
Heryanto, Ariel (2016) “Mencoba Berdamai dengan Sejarah Kelam”, CNN Indonesia, 20/04/2016, http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160420080959-21-125169/mencoba-berdamai-dengan-sejarah-kelam/
kata kunci: konflik vertikal, negara, simposium 1965,
Klik 2016_04_19_GeoTimes_Mengapa Saya Ikut Simposium Tragedi 1965-c
Pertama kali sebuah forum mempertemukan sebagian dari dua kubu tentang geger 1965 secara terbuka dan blak-blakan. Sebuah acara yang memang dirancang untuk bentrok gagasan dan emosi tanpa sensor atau ancaman fisik, dan direkam puluhan kamera, baik yang resmi dari panitia maupun dari peserta untuk disebarkan langsung ke seluruh penjuru dunia. Mereka bukan sekadar berdebat, tetapi mau saling mendengar lawan debat.
Heryanto, Ariel (2016) “Mengapa Saya Ikut Simposium Tragedi 1965”, Geo Times, 19/04/2016, http://geotimes.co.id/mengapa-saya-ikut-simposium-tragedi-1965/
kata kunci: boikot, dialog, Front Pancasila, rekonsiliasi, simposium 1965,