Seakan-akan Pemilu

Apa yang kedengarannya seakan-akan seperti janji-janji Pemilu itu bukan dusta, bohong atau tipuan. Tidak ada yang menipu. Tak ada yang tertipu.

Massa rakyat tahu bahwa itu bukan janji. Karena itu mereka tidak pernah berminat menagih. Yang mengobral juga tahu bahwa massa tahu bahwa semua itu bukan janji yang dapat ditagih. Karena itu yang mengobral omongan kampanye tidak punya beban pikiran apa konsekuensinya kelak.

Heryanto, Ariel (1996) “Seakan-akan Pemilu” dalam Mendemokratiskan Pemilu, Ifdhal Kasim (ed.), Jakarta: ELSAM, hal. 79-109.

kata kunci: Golput, pencitraan, demokrasi, massa, pemilu, perlawanan, seakan-akan, simulacra, subversi, wacana

Pelecehan dan Kesewenang-wenangan Berbahasa; Plesetan dalam Kajian Bahasa dan Politik di Indonesia

Plesetan seringkali diperdebatkan terutama dalam fungsinya sebagai tanggapan politik kaurn yang lemah terhadap tata sosial dan penguasa yang lalim. Dalam perdebatan semacam itu sering terjadi polarisasi di antara mereka yang meyakini plesetan sebagai senjata ampuh kaum lemah melawan mereka yang mengingatkan bahwa plesetan bukanlah senjata perlawanan tetapi hanyalah sebentuk pelarian diri dari kenyataan yang sulit.

Heryanto, Ariel (1996) “Pelecehan dan Kesewenang-wenangan Berbahasa; Plesetan dalam Kajian Bahasa dan Politik di Indonesia” dalam PELLBA 9; Pertemuan Linguistik Lembaga Bahasa Atma Jaya Kesembilan, Bambang Kaswanti Purwo (ed.), Yogyakarta: Kanisius, hal. 105-127.

kata kunci: bahasa, dekonstruksi, Jawa, plesetan, politik, post-strukturalisme

Lanjutkan membaca Pelecehan dan Kesewenang-wenangan Berbahasa; Plesetan dalam Kajian Bahasa dan Politik di Indonesia

Kajian Budaya Menjelang Abad 21

Masalah utama di Indonesia selama setengah abad terakhir bukannya Marxisme telah dibenci dan dimusuhi. Yang jadi masalah, wawasan modern yang mendunia itu tidak pernah diajarkan di sekolah dan kampus, sehingga dapat dipahami seluk-beluknya. Terlepas mau ditolak atau disambut. Mirip nasib Islam di luar negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim.

Tulisan ini merupakan percobaan pertama oleh penulisnya untuk melacak sumbangan intelektual dan politik Marxisme Eropa bagi kebudayaan Indonesia, termasuk salah satu ragamnya yang dikembangkan oleh LEKRA ditahun 1960an. Makalah ini disampaikan secara lisan dan terbuka di depan publik yang selama ini dianggap menjadi pewaris lawan utama LEKRA di tahun 1960an, yakni Pusat Kesenian Taman Ismail Marzuki. Adu fisik di antara beberapa pendukung kedua kubu di tempat pertemuan nyaris meledak dan mengancam jalannya pertemuan tersebut.

Heryanto, Ariel (1996) “Kajian Budaya Menjelang Abad 21”, dalam Refleksi Kebudayaan, Jakarta: Panitia Dialog Terbuka Refleksi Kebudayaan, hal. 5-22.

kata kunci: kajian budaya, kultural, LEKRA, Manifes Kebudayaan, Marxisme, struktural

Memperjelas Sosok yang Samar

Dengan pemetaan seperti itu, kita tidak akan mencari kelas menengah berdasarkan jumlah gaji, harta atau tingkat dan pola konsumsi yang diperkirakan berada di tengah-tengah kelompok lain yang serba berlebih (kelas atas) dan mereka yang serba berkekurangan (kelas bawah). Kelas menengah bukanlah kapitalis kecil atau proletariat besar.

Heryanto, Ariel (1993) “Memperjelas Sosok yang Samar”, Kata Pengantar, dalam Politik Kelas Menengah Indonesia, Richard Tanter and Kenneth Young (eds.), Jakarta: LP3ES, hal. ix-xxv.

kata kunci: borjuis, gaya hidup, identitas, ideologi, kapitalisme, kelas menengah, konsep, Marxisme, sosok

Pembauran Dalam Fiksi Jawa


Tema pembauran warga Tionghoa tidak muncul dalam khasanah sastra “resmi” nasional. Tema itu dapat dijumpai dalam penulisan nonfiksi berbahasa Indonesia dan penulisan fiksi (sastra) di luar  kesusasteraan resmi nasional, misalnya sastra berbahasa daerah.

Heryanto, Ariel (1988) “Pembauran Dalam Fiksi Jawa”, dalam D. Sabariyanto dkk (eds), Bahasa, Sastra dan Budaya Jawa, Yogyakarta: Balai Penelitian Bahasa, hal. 190-202.

kata kunci: cerpen, Cina, Dyah Kushar, Jawa, Jaya Baya, non-pribumi, pembauran, Pierre Moerlan Retno Yudhawati

Lahirnya Serangkaian Perdebatan

Tidak ada karya sastra yang tidak dapat difahami dengan mengaitkannya pada suatu konteks tertentu, sebab tak ada karya sastra yang tak berkonteks. Tetapi konteks kehidupan manusia tidak satu dan tidak seragam. Adanya berbagai ragam konteks, memungkinkan adanya penyampaian atau penerimaan/pemahaman suatu karya sastra yang tidak kontekstual.

Heryanto, Ariel (1985) “Lahirnya Serangkaian Perdebatan”, dalam A. Heryanto (ed.), Perdebatan Sastra Kontekstual, Jakarta: CV Rajawali, hal. 3-38.

kata kunci: Arief Budiman, historis, LEKRA, media massa, perdebatan, sastra kontekstual, universal

Sastra, Sejarah, dan Sejarah Sastra

Penulisan sejarah tak pernah mampu menjadi karya manusia yang sepenuhnya obyektif dan netral. Tapi yang tak kalah menarik dan penting untuk dikaji ialah … penulisan sejarah kesusasteraan di Indonesia

Heryanto, Ariel (1984) “Sastra, Sejarah, dan Sejarah Sastra”, dalam Andy Zoeltom (ed.), Budaya Sastra, Jakarta: CV Rajawali, hal. 31-52.

kata kunci: kreativitas, otonomi, Pengakuan Pariyem, sastra, sejarah, universal

Indonesia Dalam Indo

Klik 2015_04_INDOPROGRESS Indonesia dalam Indo-c

“Seperti telah saya sebutkan dalam bagian pembuka tulisan ini, saya tidak berminat mempelajari ‘Indo dalam Indonesia’: memasukkan nama-nama besar sebuah komunitas etnis yang selama ini terhilang ke dalam kantong besar bernama sejarah Indonesia. Penelitian yang sedang saya kerjakan justru sebaliknya, mencoba memahami ‘Indonesia dalam Indo’. Yakni memahami sosok Indonesia paling awal dalam sepak terjang sebuah kelompok sosial, baik Indo mau pun Peranakan Cina yang sudah lebih dari setengah abad dianggap ‘bukan/kurang’ Indonesia. Padahal mereka lebih dulu meng-Indonesia dari kebanyakan yang lain.”

Heryanto, Ariel (2015) “Indonesia Dalam Indo”, IndoProgress, 20 April, http://indoprogress.com/2015/04/indonesia-dalam-indo-menghargai-semua-untuk-hindia/

kata kunci: Hindia Belanda, Iksaka Banu, Indo, IndoProgress , Peranakan, sejarah, Semua untuk Hindia