Negara dan Maaf 1965

Kerangka berpikir “1965-sebagai-konflik-horisontal” tidak saja membebaskan Negara dari gugatan politik, moral, kultural, dengan atau tanpa gugatan legal, sebagai penanggung-jawab terbesar banjir darah 1965. Bila kita mereproduksi kerangka berpikir itu, kita ikut meneruskan tradisi Orde Baru mengadu-domba antar golongan dalam masyarakat.

Heryanto, Ariel (2016) “Negara dan Maaf 1965”, Tempo, 8/05/2016: 90-91.

kata kunci: 1965, korban, maaf, negara, konflik horizontal, Simposium

Negara Jangan Cuci Tangan

2016_04_26 CNN Negara Jangan Cuci Tangan-c

“Sudah saatnya khalayak Indonesia membedakan dan memahami kaitan antara bangsa, negara, dan sebuah pemerintahan. Pemahaman minim dan mendasar demikian bisa membantu mengurangi banyak dan parahnya salah kaprah dalam perbincangan tentang kekejaman sejak Oktober 1965 maupun berbagai kekerasan massal lain.”

Heryanto, Ariel (2016) “Negara Jangan Cuci Tangan”, CNN Indonesia, 26/04/2016, http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160426085258-21-126499/negara-jangan-cuci-tangan/

kata kunci: bangsa, konflik horizontal, kejahatan vertikal, negara, pemerintah, Jokowi simposium 1965

Mengapa Saya Ikut Simposium Tragedi 1965

Klik 2016_04_19_GeoTimes_Mengapa Saya Ikut Simposium Tragedi 1965-c

Pertama kali sebuah forum mempertemukan sebagian dari dua kubu tentang geger 1965 secara terbuka dan blak-blakan. Sebuah acara yang memang dirancang untuk bentrok gagasan dan emosi tanpa sensor atau ancaman fisik, dan direkam puluhan kamera, baik yang resmi dari panitia maupun dari peserta untuk disebarkan langsung ke seluruh penjuru dunia. Mereka bukan sekadar berdebat, tetapi mau saling mendengar lawan debat.

Heryanto, Ariel (2016) “Mengapa Saya Ikut Simposium Tragedi 1965”, Geo Times, 19/04/2016, http://geotimes.co.id/mengapa-saya-ikut-simposium-tragedi-1965/

kata kunci: boikot, dialog, Front Pancasila, rekonsiliasi, simposium 1965,

Perubahan Ini Belum Kita Pahami dengan Baik

WWR 2015_09_10 REMOTIVI Perubahan Ini Belum Kita Pahami dengan Baik-c

“Banyak gerakan sosial lain yang Anda tanyakan bergerak dalam medan yang berbeda. Mereka sosok sosial dari abad ke-20. Mereka berorganisasi dengan musuh yang terlembaga seperti negara atau perusahaan.

 Arus politik dan budaya yang bergelombang di samudra digital pada masa ini berbeda. Salah satu cirinya yang paling kuat adalah jaringannya berlingkup trans-nasional. Selain itu, perjuangan yang muncul bukan semata-mata untuk merebut kepentingan ekonomi atau kekuasaan negara, tetapi pembentukan identitas diri.

 Selama ini kita baru memahami sedikit gejolak yang masih baru pada tahap awal pertumbuhannya. Gejalanya macam-macam. Mulai dari lautan jilbab di tahun 1980an, demam Hallyu atau Korean Wave di awal abad ke-21, sampai anak-anak muda di negara mayoritas kulit putih sekuler yang bergabung dengan ISIS atau kelompok anti-ISIS.”

“Ariel Heryanto: Perubahan Ini Belum Kita Pahami dengan Baik”, wawancara, Remotivi, 10/09/2015, http://www.remotivi.or.id/wawancara/214/Ariel-Heryanto:-Perubahan-Ini-Belum-Kita-Pahami-dengan-Baik.

kata kunci: gerakan sosial, identitas, maskulin, Orde Baru, teknologi

Ariel Heryanto

Intelektual di Indonesia sekarang mengalami masa sulit. Bila orang lulus PhD lalu menjadi bintang, diwawancarai di mana-mana, tampil di seminar-seminar, dan dia tak perlu baca banyak. Yang penting dia mau memaki-maki penguasa dan kekuasaan. Dia lalu jadi bintang. Karena situasi yang seperti itu intelektual di Indonesia terbelah menjadi dua. Satu yang mengabdi kepada kekuasaan, dan mereka yang sangat kritis.

“Ariel Heryanto”, wawancara Bre Redana, Kompas, 29/12/1996: 2.

kata kunci: diaspora, identitas, intelektual, kapitalisme, maskulinitas, rantau, TKI