Merdeka

Klik 1997_08_10_K-AU Merdeka-c

Masyarakat kita kaya proklamasi, pernyataan, tekad, petisi, petunjuk, atau imbauan, ikrar; sumpah, janji, atau tekad. Betapa mudahnya hidup ini (mungkin!) bila saja sejarah dapat diatur dengan membacakan sebuah teks berapi-api.

Heryanto, Ariel (1997) “Merdeka”, Kompas, 10 Agustus 1997, hal. 2.

kata kunci: Asal Usul, Kompas, modern, penjajah, pria, proklamasi, ikrar, rokok

Kekerasan Politik

Sampai sekarang, kerangka analisa kekerasan negara masih asing dalam forum kajian ilmu sosial. Aparatus negara tidak akan senang mensponsori penelitian atau pertumbuhan teori semacam itu. Mereka lebih suka mengipas-ngipasi perdebatan yang lebih memojokkan warga swasta. Maka, suburlah istilah seperti “konflik SARA”, kerusuhan “massal”, kebrutalan “massa”, atau “kecemburuan sosial”, untuk menjuluki peristiwa.

Heryanto, Ariel (1997) “Kekerasan Politik”, Forum Keadilan, 5 (23) 24 Februari, 1997, hal.   63.

kata kunci: Ernest Renan, Forum Keadilan, kecemburuan sosial, kekerasan, negara, massa, Weber

 

GEPEKA

Di lingkungan politik praktek pemberian nama secara sewenang-wenang patut dipertanyakan. Apalagi dalam sejumlah bidang lain yang berlagak lebih beradab, misalnya jurnalisme atau ilmu pengetahuan.

Heryanto, Ariel (1997) “GEPEKA”, Jakarta-Jakarta, 556, 1- 7 Maret 1997, hal. 38-39.

kata kunci: bahasa, Demokrasi Terpimpin, etika, GPK, hukum rimba, Jakarta-Jakarta, Orde Lama

Birokrat Kelas Menengah

1997_02_09_TIARA Birokrat Kelas Menengah-c

“Beberapa tahun yang lalu, saya mendapat undangan untuk memberikan kuliah tentang kesusastraan Indonesia di Amerika Serikat. Pulang dari sana, lewat pos paket saya mengirimkan buku-buku yang saya jadikan bahan kuliah.

Bersamaan dengan tibanya paket-paket itu di alamat saya di Salatiga, saya menerima sebuah pemberitahuan bahwa salah satu buku saya telah disita oleh pihak bea cukai di Semarang.

Bukan, itu bukan buku yang berisi Marxisme. Yang disita itu adalah sebuah novel karangan seorang yang antikomunis dan antimarxisme. Buku itu disita karena judulnya Atheis karya Achdiat Kartamihardja.

Ironisnya, bukan saja isi novel itu menjelek-jelekkan komunisme. Novel itu diterbitkan oleh badan pemerintah Orde Baru. Dicetak beberapa belas kali di sepanjang masa jaya Orde Baru. Dijual di hampir semua toko buku besar di tanah air, dijadikan salah satu bacaan wajib di sekolah-sekolah menengah dan perguruan tinggi.”

Heryanto, Ariel (1997) “Birokrat Kelas Menengah”, Tiara, 176, 9 Februari 1997, hal. 78-79.

kata kunci: Achdiat Kartamihardja, Atheis, birokrat, Iwan Simatupang, kelas menengah, Merahnya Merah, Mao Ze Dong, Tiara

Ita

Jika menemukan iklim yang tepat, sebuah kejahatan mendorong terjadinya kejahatan-kejahatan baru. Dusta melahirkan dusta-dusta lain.

Heryanto, Ariel (1998) “Ita”, Kompas, 18 Oktober 1998, hal. 2.

kata kunci: Asal Usul, impunitas, Ita, Komnas HAM, Kompas, LBH, Marthadinata, Mei 1998, pembunuhan, Tim Relawan untuk Kemanusiaan, Udin

Budiman Berbanding Soekarno

1997_04_26_DR Budiman Berbanding Soekarno-c

“Sebelum diadili, baik PNI Sukamo maupun PRD Budiman sempat dicaci maki oleh sejumlah organ pemerintah sebagai kekiri-kirian, revolusioner, dan reinkarnasi komunisme “walau dengan gerak-gerik yang tidak persis sama”. Yang tak kalah memukau adalah kemiripan bunyi dakwaan jaksa dalam sidang pengadilan yang terpisah jarak 67 tahun itu.”

Heryanto, Ariel (1997) “Budiman Berbanding Soekarno”, Detektif & Romantika, 26 April 1997, hal. 46.

kata kunci: Budiman, Detektif & Romantika, PNI, PRD, Soekarno, terdakwa, Undang-Undang Anti-Subversi