Sastra Kita Semakin Tergusur

Tidak ada suatu karya yang menjadi besar karena nilai-nilai yang dikandungnya saja. Suatu karya budaya hanya bisa menjadi besar karena dibesarkan, dimuliakan, dirayakan sebagai karya besar oleh proses sosial.

Heryanto, Ariel (1991) “Sastra Kita Semakin Tergusur”, Jawa Pos, 21 Agustus 1991, hal. X.

kata kunci: Chairil Anwar, H.B. Jassin, Jawa Pos, Keith Foulcher, sastra, sejarah, tergusur

Merayakan Peristiwa Bersejarah

Arief Rachman Hakim adalah seorang mahasiswa yang tewas tertembak di tengah hiruk-pikuk demonstrasi mahasiswa anti-Sukarno. Kemungkinan ia korban sebuah peluru yang nyasar. Ketika ia ditemukan tewas, para tokoh aktivis tak ada yang mengenalnya. Ia bukan tokoh. Menurut yang mengenalnya ia bukan aktivis yang politis. Boleh jadi ia penonton yang sial kena peluru nyasar karena ia terlambat tiarap.

Heryanto, Ariel (1991) “Merayakan Peristiwa Bersejarah”, Suara Merdeka, 15 Agustus 1991, hal. 6.

kata kunci: Arief Rachman Hakim, Chairil Anwar, kemerdekaan, konstruksi, merayakan, proklamasi, sejarah, Suara Merdeka

Kapitalisme dan Kebudayaan (2/2)

1991_08_10_Bernas Kapitalisme dan Kebudayaan 2-c

“Penjelasan baku di Indonesia mengenai rendahnya kualitas film Indonesia ialah dominasi nilai komersial dalam proses produksi. Jika komersialisme ini dapat diterjemahkan sebagai kapitalisme, maka saya berpendapat justru sebaliknya: kita tak menikmati film nasional bermutu karena kurangnya persaingan pasar ala kapitalisme yang terbuka. Film-film yang bagus dari AS tidak dibikin dengan niat utama mencapai nilai estetika tinggi, tetapi laba sebesar-besarnya! Laba yang besar tidak bertabrakan dengan nilai estetika tinggi bilamana ada permintaan di pasar untuk itu. Permintaan seperti itu di Indonesia sudah jelas ada, walau besarnya belum jelas.”

Heryanto, Ariel (1991) “Kapitalisme dan Kebudayaan” (2/2), Bernas, 10 Agustus 1991, hal. 4.

kata kunci: Bernas, dialektika, ideal, kapitalisme, kebudayaan, komersial, kontradiksi, material, progresif

Tulisan terkait:
Kapitalisme dan Kebudayaan (1/2)
Harga Seniman dan Kapitalisme
1991_08_06 Rizal M Tanggapi AH-c
1991_08_15 Arizal Malna-c
1991_08_19 Denny JA-c

Kapitalisme dan Kebudayaan (1/2)

Dalam satu hal yang sangat mendasar, kerja seniman tak berbeda dari kerja tukang kayu, koki di warung, hakim di pengadilan atau editor di kantor redaksi. Semuanya tidak bekerja di luar sejarah, walau bekerja individual. Tak di luar planet atau ruang hampa. Semuanya boleh mempersetankan uang, tapi kondisi kesejarahan tidak bakalan mempersetankan mereka

Heryanto, Ariel (1991) “Kapitalisme dan Kebudayaan” (1/2), Bernas, 9 Agustus 1991, hal. 4.

kata kunci: historis, modernisasi, Orde Baru, pembangunan

Tulisan berkait:
“Kapitalisme dan Kebudayaan (2/2)”
Harga Seniman dan Kapitalisme
1991_08_06 Rizal M Tanggapi AH-c
1991_08_15 Arizal Malna-c
1991_08_19 Denny JA-c

Harga Seniman dan Kapitalisme

1991_07_30_BERNAS Harga Seniman dan Kapitalisme-c

“Setiap masyarakat dapat dibedakan dari masyarakat lainnya, antara lain, dari perbedaan (a) gaya dan corak mereka menyembunyikan atau menyangkal pertukaran demikian, (b) luas atau sempitnya bidang kehidupan sosial yang diperbolehkan mengadakan tawaf-menawar secara blak-blakan, serta (c) bidang kehidupan mana yang diberi keabsahan mengadakan tawar-menawar blak-blakan itu.”

Heryanto, Ariel (1991) “Harga Seniman dan Kapitalisme”, Bernas, 30 Juli 1991, hal. 4.

kata kunci: Bernas, kapitalisme, moral, nilai, pasar,

Tulisan berkait:
1991_08_06 Rizal M Tanggapi AH-c
1991_08_15 Arizal Malna-c
1991_08_19 Denny JA-c
Kapitalisme dan Kebudayaan (1/2)
“Kapitalisme dan Kebudayaan (2/2)”

Giliran Yahya Muhaimin

Kebenaran selalu (dan sekaligus hanya) dicapai dalam sifatnya yang “sementara” dan “terbatas”. Jadi harus senantiasa diuji-ulang berkali-kali dan terus-menerus dilengkapi.

Heryanto, Ariel (1991) “Giliran Yahya Muhaimin”, Bernas, 6 Mei 1991, hal. 4.

kata kunci: Bernas, gugat, ilmuwan, LP3ES, Probosutedjo, pencemaran, publik, skripsi, Yahya Muhaimin