Sastra ‘dan’ Politik

‘Sastra’ tidak pernah terlepas dari ‘politik’, atau tidak pernah terlepas dari kepentingan-kepentingan ‘politis’. Hubungan antara ‘sastra’ dan ‘politik’ bukan sebagai dua hal mandiri yang mempunyai persinggungan-persinggungan di tepi wilaya masing-masing. Batasan yang membedakan ‘sastra’ dari yang ‘bukan sastra’ itu sendiri terbentuk oleh dan sekaligus membentuk hubungan-hubungan kemasyarakatan yang ber’politik’.

Heryanto, Ariel (1984) “Sastra ‘dan’ Politik”, RIMA, 18 (Summer): 6-43.

kata kunci: bentuk, isi, kategori, kontekstual, politik, RIMA, sastra, sejarah, universal

Identitas ‘Asli’ Adalah Fiksi

Dalam berbagai masyarakat, yang digunakan sebagai pembenar ketimpangan sosial dan penindasan adalah kemurnian dan keabsahan beragama, beda jenis kelamin dan orientasi seksual, bahasa, warna kulit, kebangsawanan, pendidikan, modal material, …

“Identitas ‘Asli’ Adalah Fiksi”, wawancara Maria Hartiningsih, Kompas, 2/08/2015: 13.

kata kunci: 1965, asli, identitas, fiksi, kemajemukan, maskulin, patriarkhi, toleransi

Mencari Kaidah Estetika Sastra Kontekstual (1/3)

Tidak ada satu pun karya sastra yang “kontekstual” sebagai karya itu sendiri. Yang ada hanyalah karya-karya sastra, semua karya sastra, yang kontekstual untuk suatu atau beberapa konteks tertentu.

Heryanto, Ariel (1986) “Mencari Kaidah Estetika Sastra Kontekstual (1/3)”, Basis, 35 (Januari): 33-38.
kata kunci: Basis, Claudine Salmon, estetika, gender, kaidah, phallus, resmi, sastra kontekstual

Lanjutkan membaca Mencari Kaidah Estetika Sastra Kontekstual (1/3)

Mencari Kaidah Estetika Sastra Kontekstual (3/3)

1986_ThXXXV-No3-Mar_BASIS Mencari Kaidah Estetika 3-c

Heryanto, Ariel (1986) “Mencari Kaidah Estetika Sastra Kontekstual (3/3)”, Basis, 35 (March): 107-115.

kata kunci: Basis, estetika, Goenawan Mohammad, Harry Aveling, kaidah, sastra kontekstual, seksual

Lanjutkan membaca Mencari Kaidah Estetika Sastra Kontekstual (3/3)

Tiada Demokrasi yang Tak Retak

1996_04_29_JP Tiada Demokrasi yang Tak Retak-c

Heryanto, Ariel (1996) “Tiada Demokrasi yang Tak Retak”, Jawa Pos, 29 April 1996, hal. 4, 5.

kata kunci: demokrasi, HKBP, Jawa Pos, NU, PDI, perpecahan, swasta, tandingan, TEMPO, UKSW, YLBHI

Tanggapan:
(1) Hendardi (YLBHI): 1996_04_30 Hendardi Tanggapi AH-c
(2) Dr Riswanda Imawan (UGM): 1996_05_01 Riswanda Imawan Tanggapi AH_20160224_0001-c
(3) Dr Loekman Soetrisno (UGM): 1996_05_09 Loekman Soetrisno Tanggapi AH-c
(4) Cornelius Lay MA (UGM): 1996_05_15 Cornelius Lay Tanggapi AH_20160224_0001-c
(5) Dr Ramlan Surbakti (UnAir): 1996_05_18 Ramlan Surbakti Tanggapi
(6) Mukaffi Riza (pembaca Jawa Pos): 1996_05_03_Tanggapan buat Bung Ariel-c