Intelektual Publik, Media, dan Demokratisasi

Klik 2004_Intelektual Publik, Media, dan Demokratisasi-c

“kaum intelektual harus menjaga jarak—sekurang-kurangnya dalam penampilan publik—dari kelompok-kelompok sosial yang paling berkuasa dan berharta dalam masyarakat mereka. Nama baik dan kewibawaan mereka tergantung pada sejauh mana mereka menjaga jarak dari kegiatan-kegiatan yang tampak terutama mendatangkan imbalan baik material maupun nonmaterial. Citra publik inilah yang membedakan mereka dari birokrat negara atau kelas bisnis yang sedang bertumbuh, walau kekayaan atau pendapatan mereka mungkin tidak terlalu berbeda.

Tetapi, jarak dari kelompok yang secara politis atau ekonomi paling berkuasa tidak pernah total atau ekstrem. Kaum intelektual sering menikmati kehidupan dan perlindungan yang menyenangkan, entah secara langsung dari kelompok yang paling berkuasa atau berharta di dalam masyarakat, atau secara tidak langsung dari ketimpangan tata sosial yang ikut menguntungkan mereka.”

Heryanto, Ariel (2004) “Intelektual Publik, Media, dan Demokratisasi” dalam A. Heryanto dan S.K.Mandal (eds), Menggugat Otoriterisme di Asia Tenggara, terjemahan Budiawan, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, hal. 49-118.

kata kunci: demokratisasi, industrialisasi, intelektual publik, kelas menengah, KKN, media, pasca-kolonial, Tempo, UKSW

Indonesia di Sela Kontroversi Inul Daratista

2006_Indonesia Di Sela Kontroversi Inul Daratista-c

Heryanto, Ariel (2006) “Indonesia di Sela Kontroversi Inul Daratista”, dalam Philip Yampolsky (ed.) Perjalanan Kesenian Indonesia Sejak Kemerdekaan; Perubahan dalam Pelaksanaan, Isi dan Profesi, Jakarta: Equinox, hal. 287-295.

kata kunci: Inul Daratista, daerah, nasional, Islam, Jawa, kelas menengah, modernitas, kapitalisme global, patriarki, feminisme

Budaya Pop dan Persaingan Identitas

2012_Budaya Pop dan Persaingan Identitas-c

Heryanto, Ariel (2012) “Budaya Pop dan Persaingan Identitas”, dalam  A. Heryanto (ed.),  Budaya Populer di Indonesia; Identitas Mencair di Masa Pasca-Orde Baru, penerjemah Eka S. Saputra, Yogyakarta: Jalasutra, hal.1-53.

kata kunci: budaya pop, gender, identitas, Inul, Islam, Jawa, Marxis, maskulin, modernitas

Kewarganegaraan dan Etnis Cina dalam Dua Film Indonesia Pasca-1998

2012_Kewarganegaraan dan Etnis Cina-c

Heryanto, Ariel (2012) “Kewarganegaraan dan Etnis Cina dalam Dua Film Indonesia Pasca-1998”, dalam A. Heryanto (ed.), Budaya Populer di Indonesia; Identitas Mencair di Masa Pasca-Orde Baru, penerjemah Eka S. Saputra, Yogyakarta: Jalasutra, hal.105-138.

kata kunci: Ca-bau-kan, Cina, etnis, film, Gie, Krishna Sen, peranakan, Orde Baru

Liberalisasi Ekonomi: Berkah Ataukah Bencana?

1997_Liberalisasi Ekonomi_ Berkah Ataukah Bencana-c

Heryanto, Ariel (1997) “Liberalisasi Ekonomi: Berkah Ataukah Bencana?”, dalam Liberalisasi Ekonomi dan Politik di Indonesia, Dawam Rahardjo and Kumala Hadi (ed.), Yogyakarta: Tiara Wacana, hal. 359-368.

kata kunci: budaya, borjuasi, ekonomi, kapitalisme, kelas menengah, komoditas, liberalisasi, swasta

Dinamika Budaya dalam Kapitalisme Indonesia

1997_Dinamika Budaya dalam Kapitalisme Indonesia-c

Heryanto, Ariel (1997) “Dinamika Budaya dalam Kapitalisme Indonesia”, dalam Ecstasy Gaya Hidup; Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia, Idi Subandy Ibrahim (ed.), Bandung: Mizan Pustaka, hal. 249-254.

kata kunci: budaya, kritik sosial, material, romantisme, seni, struktural

Seakan-akan Pemilu

Klik 1996_Seakan akan Pemilu-c

Apa yang kedengarannya seakan-akan seperti janji-janji Pemilu itu bukan dusta, bohong atau tipuan. Tidak ada yang menipu. Tak ada yang tertipu.

Massa rakyat tahu bahwa itu bukan janji. Karena itu mereka tidak pernah berminat menagih. Yang mengobral juga tahu bahwa massa tahu bahwa semua itu bukan janji yang dapat ditagih. Karena itu yang mengobral omongan kampanye tidak punya beban pikiran apa konsekuensinya kelak. (hal 84)

Heryanto, Ariel (1996) “Seakan-akan Pemilu” dalam Mendemokratiskan Pemilu, Ifdhal Kasim (ed.), Jakarta: ELSAM, hal. 79-109.

kata kunci: Golput, pencitraan, demokrasi, massa, pemilu, perlawanan, seakan-akan, simulacra, subversi, wacana

Pelecehan dan Kesewenang-wenangan Berbahasa; Plesetan dalam Kajian Bahasa dan Politik di Indonesia

Klik 1996_Pelecehan Dan Kesewenang-Wenangan Berbahasa Plesetan-c

Heryanto, Ariel (1996) “Pelecehan dan Kesewenang-wenangan Berbahasa; Plesetan dalam Kajian Bahasa dan Politik di Indonesia” dalam PELLBA 9; Pertemuan Linguistik Lembaga Bahasa Atma Jaya Kesembilan, Bambang Kaswanti Purwo (ed.), Yogyakarta: Kanisius, hal. 105-127.

kata kunci: bahasa, dekonstruksi, Jawa, plesetan, politik, post-strukturalisme

Baca lebih lanjut