Heryanto, Ariel (1998) “Monumen”, Kompas, 26 Juli 1998, hal. 2.
kata kunci: Asal Usul, kekerasan politik, Kompas, monumen, Orde Baru, teror
Heryanto, Ariel (1998) “Monumen”, Kompas, 26 Juli 1998, hal. 2.
kata kunci: Asal Usul, kekerasan politik, Kompas, monumen, Orde Baru, teror
Perkosaan dilakukan terbuka di tempat umum di 27 lokasi hanya dalam beberapa jam. Kemampuan membakar sebuah ibu kota berpenduduk 10 juta dan memperkosa massal bebas hambatan merupakan sebuah prestasi istimewa. Tentu saja tidak ada dan tidak bakal ada pengadilan untuk semua itu. Bukan tak ada petugas kepolisian dan kehakiman yang prihatin dan peduli. Mereka tidak berdaya, kalaupun bernyali.
Heryanto, Ariel (1998) “Neraka”, Kompas, 28 Juni 1998, hal. 2.
kata kunci: Asal Usul, Institut Sosial Jakarta, Ester Indahyani Jusuf, Ita Fatia Nadia, Kalyanamitra, kekerasan, Kompas, Mei 1998, Mitra Perempuan, neraka, Rita Serena Kalibonso, Romo Sandyawan, Solidaritas Nusa-Bangsa
Klik 1997_08_10_K-AU Merdeka-c
Masyarakat kita kaya proklamasi, pernyataan, tekad, petisi, petunjuk, atau imbauan, ikrar; sumpah, janji, atau tekad. Betapa mudahnya hidup ini (mungkin!) bila saja sejarah dapat diatur dengan membacakan sebuah teks berapi-api.
Heryanto, Ariel (1997) “Merdeka”, Kompas, 10 Agustus 1997, hal. 2.
kata kunci: Asal Usul, Kompas, modern, penjajah, pria, proklamasi, ikrar, rokok
1997_07_13_K-AU Kekeluargaan-c
Heryanto, Ariel (1997) “Kekeluargaan”, Kompas, 13 Juli 1997, hal. 2.
kata kunci: Asal Usul, ASEAN, Asia, Kamboja, kekeluargaan, kekerasan, Kompas, perang saudara, Timur
Sampai sekarang, kerangka analisa kekerasan negara masih asing dalam forum kajian ilmu sosial. Aparatus negara tidak akan senang mensponsori penelitian atau pertumbuhan teori semacam itu. Mereka lebih suka mengipas-ngipasi perdebatan yang lebih memojokkan warga swasta. Maka, suburlah istilah seperti “konflik SARA”, kerusuhan “massal”, kebrutalan “massa”, atau “kecemburuan sosial”, untuk menjuluki peristiwa.
Heryanto, Ariel (1997) “Kekerasan Politik”, Forum Keadilan, 5 (23) 24 Februari, 1997, hal. 63.
kata kunci: Ernest Renan, Forum Keadilan, kecemburuan sosial, kekerasan, negara, massa, Weber
Di lingkungan politik praktek pemberian nama secara sewenang-wenang patut dipertanyakan. Apalagi dalam sejumlah bidang lain yang berlagak lebih beradab, misalnya jurnalisme atau ilmu pengetahuan.
Heryanto, Ariel (1997) “GEPEKA”, Jakarta-Jakarta, 556, 1- 7 Maret 1997, hal. 38-39.
kata kunci: bahasa, Demokrasi Terpimpin, etika, GPK, hukum rimba, Jakarta-Jakarta, Orde Lama
1997_02_09_TIARA Birokrat Kelas Menengah-c
“Beberapa tahun yang lalu, saya mendapat undangan untuk memberikan kuliah tentang kesusastraan Indonesia di Amerika Serikat. Pulang dari sana, lewat pos paket saya mengirimkan buku-buku yang saya jadikan bahan kuliah.
Bersamaan dengan tibanya paket-paket itu di alamat saya di Salatiga, saya menerima sebuah pemberitahuan bahwa salah satu buku saya telah disita oleh pihak bea cukai di Semarang.
Bukan, itu bukan buku yang berisi Marxisme. Yang disita itu adalah sebuah novel karangan seorang yang antikomunis dan antimarxisme. Buku itu disita karena judulnya Atheis karya Achdiat Kartamihardja.
Ironisnya, bukan saja isi novel itu menjelek-jelekkan komunisme. Novel itu diterbitkan oleh badan pemerintah Orde Baru. Dicetak beberapa belas kali di sepanjang masa jaya Orde Baru. Dijual di hampir semua toko buku besar di tanah air, dijadikan salah satu bacaan wajib di sekolah-sekolah menengah dan perguruan tinggi.”
Heryanto, Ariel (1997) “Birokrat Kelas Menengah”, Tiara, 176, 9 Februari 1997, hal. 78-79.
kata kunci: Achdiat Kartamihardja, Atheis, birokrat, Iwan Simatupang, kelas menengah, Merahnya Merah, Mao Ze Dong, Tiara
Heryanto, Ariel (1996) “Kuis”, Ummat, 1 (25), 10 Juni 1996, hal. 81.
kata kunci: kebenaran, judi, kuis, pendidikan, televisi, Ummat
1996_06_16_SURABAYA POST Ujian PDI-c
Heryanto, Ariel (1996) “Ujian PDI”, Surabaya Post, 16 Juni 1996, hal. 6.
kata kunci: Aung San Suu Kyi, konflik, Megawati, Myanmar, NLD, oposisi, PDI, Surabaya Post
1997_04_06_TIARA Baju Wakil Rakyat-c
Heryanto, Ariel (1997) “Baju Wakil Rakyat”, Tiara, 180, 6 April 1997, hal. 84-85.
kata kunci: kelas menengah, Kisah Perjuangan Suku Naga, pembangunan, penggusuran tanah, Rendra, safari, sandal jepit, Tiara, wakil rakyat