Solidaritas Tersisih untuk Indonesia

2016_09_05_CNN Solidaritas Tersisih untuk Indonesia-c

“Di sepanjang sejarah bangsa ini, tidak ada film yang memberikan dampak politik sehebat Indonesia Calling (1946, Joris Ivens) dan The Act of Killing (2012, Joshua Oppenheimer).

Keduanya layak dibahas bersamaan. Sayang, hingga kini kalangan pengamat film, sejarah maupun politik Indonesia, membahas film yang satu tanpa menyinggung yang lain. Seakan-akan keduanya berbicara tentang dua negara yang berbeda.

Membandingkan kedua film tersebut terasa lebih layak, karena sejumlah kemiripan proses produksi mereka.”

Heryanto, Ariel (2016) “Solidaritas Tersisih untuk Indonesia”, CNN Indonesia, 05/09/2016, http://www.cnnindonesia.com/hiburan/20160905105551-221-156107/solidaritas-tersisih-untuk-indonesia/

kata kunci: Australia, Belanda, Indonesia Calling, Joris Ivens, LEKRA, Marxisme-Komunisme, palu-arit, solidaritas buruh, The Act of Killing.

Rasisme Sebelum dan Sesudah Kemerdekaan RI

Klik 2016_08_12_CNN Rasisme Sebelum dan Sesudah Kemerdekaan RI-c

“Rasisme menjadi salah satu dasar kolonialisme di tanah jajahan Hindia Belanda. Rasisme kolonial ini menciptakan sosok mahluk yang kini bernama ‘pribumi’. Setelah penduduk jajahan ini merdeka, rasisme kolonial itu bukannya dibuang, tapi dilestarikan dengan sedikit perubahan, yakni menukar posisi ras yang dimuliakan dan dinistakan.”

 Heryanto, Ariel (2016) “Rasisme Sebelum dan Sesudah Kemerdekaan RI”, CNN Indonesia, 12/08/2016, http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160812104757-21-150900/rasisme-sebelum-dan-sesudah-kemerdekaan-ri/

kata kunci: Hindia Belanda, internasionalisme, kolonial, nasional, rasisme, sejarah

Mereka Terlalu Sopan

WWR_1994_10_4-10_SIMPoNI-ThXVII-N1 Mereka Terlalu Sopan-c

“Betul, Sastra Pedalaman menunjukkan kebangkitan semangat penggugatan terhadap pusat. Dan jangan lupa, ini tidak hanya terjadi di Indonesia. . . .  seniman-seniman Chicago benci pada anak-anak di New York, yang di luar Beijing benci dengan yang ada di Beijing, temen-temen yang ada di Melbourne benci sama anak Sidney. Sama. Mereka memandang ibukota menjadi simbol korupsi, kesewenang-wenangan, kelimpahan, ketidaktahuan diri. Tapi mereka juga iri, mereka ingin seperti itu juga.”

 Ini terjadi di banyak tempat dan banyak tahun. Misalnya, tahu nggak, pada tahun 65-an, Lekra Yogya bisa bersaing dengan Lekra Jakarta.”

“Mereka Terlalu Sopan”, wawancara, SIMPoNI, Th. XVII, No 1, 4-10 Oktober 1994.

kata kunci: dominasi, ideologi, Nirwan Dewanto, pedalaman, pusat, sastra daerah

Tak Ada larangan Orang Ikut-ikutan Posmo

WWR_1994_01_04_DeTIK Tak Ada larangan Posmo-c

“Dan kalau kita bilang post modernism itu dari Barat, memang betul dari Barat. Tapi, yang kita baca sekarang itu bukan hanya dari Barat. Kita baca dari India, kita baca dari Malaysia, kita baca dari Amerika Latin, Afrika: semua membicarakan post modernism sekarang dengan wama lokal yang berbeda-beda.”

“Tak Ada larangan Orang Ikut-ikutan Posmo”, wawancara, DeTIK, No043, ThXVII, 4 Januari 1994

kata kunci: demokratisasi, kebudayaan, kekerasan, modernisasi, modernitas, postmodernisme, santet

 

 

Menghormati Keputusan Pengadilan Rakyat 1965

Klik 2016_07_21_CNN Menghormati Keputusan Pengadilan Rakyat 1965-c

Banjir darah 1965 di Indonesia terjadi berkat restu dan dukungan berbagai pihak asing terhadap para penjagal sebagian warga Indonesia terhadap saudara sebangsa setanah air. Pembantaian itu sebelumnya didorong oleh konflik politik dalam negeri, yang pada gilirannya berinduk pada konflik global bernama Perang Dingin.

Aneh, jika penyelesaian kasus 1965 dianggap sebagai monopoli Indonesia, dikurung dalam sangkar bernama ‘urusan dalam negeri’ yang tidak perlu atau tidak boleh melibatkan pandangan dan tanggung jawab atau kerjasama ‘pihak asing’.

Heryanto, Ariel (2016) “Menghormati Keputusan Pengadilan Rakyat 1965”, CNN Indonesia, 21/07/2016, http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160721090759-21-146043/menghormati-keputusan-pengadilan-rakyat-1965/

kata kunci: anti-asing, Hindia Belanda, IPT 1965, kolonial, penyangkalan

Propaganda

Kerukunan kelas atas dan ketenteraman kelas menengah merupakan kunci stabilitas. Tak ada perubahan sosial tanpa keretakan elite. Yang dapat diharapkan dari propaganda adalah agar mereka yang makan gaji dari ketimpangan tata-sosial tidak melihat ketimpangan itu.

Heryanto, Ariel (1996) “Propaganda”, Forum Keadilan, Th. V, No. 14, 21 Oktober 1996, hal. 56.

kata kunci: antikomunisme, slogan, pendidikan, kelas sosial

Kapan Kambuhnya Bahaya PKI?

Klik 2016_05_10_CNN Kapan Kambuhnya Bahaya PKI-c

Peringatan akan bahaya komunis di masa ini dianggap berlebihan oleh banyak pihak. Mereka menertawakannya sebagai ketololan yang sangat konyol. Sebagian dari yang geli tampaknya jadi usil membuat gambar palu-arit, sekedar untuk mengolok-olok ketololan itu.

Apakah masalahnya hanya berhenti di situ? Hanya ketololan yang disambut keusilan? Menurut saya tidak. Kambuhnya beberapa isu politik seperti “bahaya Komunis” penting. Ia ibarat sirine yang menandakan memanasnya gesekan di kalangan elite politik.

Heryanto, Ariel (2016) “Kapan Kambuhnya Bahaya PKI?”, CNN Indonesia, 10/05/2016, http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160510094659-21-129620/kapan-kambuhnya-bahaya-pki/

kata kunci: 1988, bahaya Komunis, Cina, konflik elite, PKI

Indonésie : ouverture d’un dialogue historique sur les massacres de 1965

2016_05_12 AA Indonésie _ ouverture d’un dialogue historique sur les massacres de 1965-c

Heryanto, Ariel (2016) “Indonésie : ouverture d’un dialogue historique sur les massacres de 1965”, Alter Asia, 12/05/2016, http://www.alterasia.org/201605124719/indonesie-ouverture-dun-dialogue-historique-massacres-de-1965/

Translated from Heryanto, Ariel (2016) “Massacre, memory and the wounds of 1965”, New Mandala, 2/05/2016

key words: Indonésie, massacres de 1965, Symposium national sur la tragédie de 1965