Warisan Budaya Tak Mungkin Dilestarikan; Prosesnya Bergerak dan Berubah Diterjang Waktu

1983_04_14_SH Warisan Budaya Tak Mungkin Dilestarikan-c

Heryanto, Ariel (1983) “Warisan Budaya Tak Mungkin Dilestarikan; Prosesnya Bergerak dan Berubah Diterjang Waktu”, Sinar Harapan, 14 April 1983, hal. VI-VII.

kata kunci: baca-tulis, budaya, lestari, lisan, modern, Sinar Harapan, tradisional, warisan

Republik Preman Indonesia

Dalam keadaan stabil, preman adalah mitra terbaik bagi pejabat ataupun pengusaha. Kerja sama antara mereka saling menguntungkan. Yang paling menderita dan dirugikan oleh kerja sama itu adalah rakyat kecil. Ini berlaku di tingkat kampung hingga negara atau dunia.

Heryanto, Ariel (1999) “Republik Preman Indonesia”, Tempo, 22 (28 Nopember), hal. 72-73.

kata kunci: Figures of Criminality, Gus Dur, Henk Schulte Nordholt, John Sidel, Margreet van Till, Megawati, negara, preman, resensi buku, Tempo

Keadilan Sosial dan Sastra

Karena terlanjur percaya akan adanya ‘sastra’ yang universal, para tokoh sastra Indonesia dengan mudah terkecoh untuk mempercayai ketahyulan akan adanya ‘sastra dunia’, dan ‘sastra Indonesia’ sebagai salah satu warganya.

Heryanto, Ariel (1983) “Keadilan Sosial dan Sastra”, Kompas, 30 Maret 1983, hal. IV.

kata kunci: keadilan sosial, Kompas, material, Nobel, Raymond Williams, sastra, universal