Pembauran Dalam Fiksi Jawa


Tema pembauran warga Tionghoa tidak muncul dalam khasanah sastra “resmi” nasional. Tema itu dapat dijumpai dalam penulisan nonfiksi berbahasa Indonesia dan penulisan fiksi (sastra) di luar  kesusasteraan resmi nasional, misalnya sastra berbahasa daerah.

Heryanto, Ariel (1988) “Pembauran Dalam Fiksi Jawa”, dalam D. Sabariyanto dkk (eds), Bahasa, Sastra dan Budaya Jawa, Yogyakarta: Balai Penelitian Bahasa, hal. 190-202.

kata kunci: cerpen, Cina, Dyah Kushar, Jawa, Jaya Baya, non-pribumi, pembauran, Pierre Moerlan Retno Yudhawati

Lahirnya Serangkaian Perdebatan

Tidak ada karya sastra yang tidak dapat difahami dengan mengaitkannya pada suatu konteks tertentu, sebab tak ada karya sastra yang tak berkonteks. Tetapi konteks kehidupan manusia tidak satu dan tidak seragam. Adanya berbagai ragam konteks, memungkinkan adanya penyampaian atau penerimaan/pemahaman suatu karya sastra yang tidak kontekstual.

Heryanto, Ariel (1985) “Lahirnya Serangkaian Perdebatan”, dalam A. Heryanto (ed.), Perdebatan Sastra Kontekstual, Jakarta: CV Rajawali, hal. 3-38.

kata kunci: Arief Budiman, historis, LEKRA, media massa, perdebatan, sastra kontekstual, universal

Sastra, Sejarah, dan Sejarah Sastra

Penulisan sejarah tak pernah mampu menjadi karya manusia yang sepenuhnya obyektif dan netral. Tapi yang tak kalah menarik dan penting untuk dikaji ialah … penulisan sejarah kesusasteraan di Indonesia

Heryanto, Ariel (1984) “Sastra, Sejarah, dan Sejarah Sastra”, dalam Andy Zoeltom (ed.), Budaya Sastra, Jakarta: CV Rajawali, hal. 31-52.

kata kunci: kreativitas, otonomi, Pengakuan Pariyem, sastra, sejarah, universal

Indonesia Dalam Indo

Klik 2015_04_INDOPROGRESS Indonesia dalam Indo-c

“Seperti telah saya sebutkan dalam bagian pembuka tulisan ini, saya tidak berminat mempelajari ‘Indo dalam Indonesia’: memasukkan nama-nama besar sebuah komunitas etnis yang selama ini terhilang ke dalam kantong besar bernama sejarah Indonesia. Penelitian yang sedang saya kerjakan justru sebaliknya, mencoba memahami ‘Indonesia dalam Indo’. Yakni memahami sosok Indonesia paling awal dalam sepak terjang sebuah kelompok sosial, baik Indo mau pun Peranakan Cina yang sudah lebih dari setengah abad dianggap ‘bukan/kurang’ Indonesia. Padahal mereka lebih dulu meng-Indonesia dari kebanyakan yang lain.”

Heryanto, Ariel (2015) “Indonesia Dalam Indo”, IndoProgress, 20 April, http://indoprogress.com/2015/04/indonesia-dalam-indo-menghargai-semua-untuk-hindia/

kata kunci: Hindia Belanda, Iksaka Banu, Indo, IndoProgress , Peranakan, sejarah, Semua untuk Hindia

Mungkinkah Yang Salah Demokrasi

Di negara-negara demokratis-liberal Eropa Barat, Amerika Utara, dan Australia, demokrasi sudah memiliki status nyaris sud religius. Di masyarakat seperti ini, tersedia toleransi besar bagi penghujatan dan caci-maki kepala negara, atau bahkan kepada agama dan Tuhan. Tetapi nyaris tidak terdengar gugatan terhadap demokrasi. Karena sudah diterima sebagai barang yang keramat dan suci, demokrasi sebagai gagasan dasar tidak lagi dipertanyakan.

Heryanto, Ariel (2011) “Mungkinkah Yang Salah Demokrasi”, Maarif, Vol 6, No.1, April 2011: 11-20.

kata kunci: demokrasi, liberalisme, Maarif

Budaya Pop Indonesia: Kehangatan Seusai Perang Dingin

Untuk pertama kalinya sejak masa kolonialisme Eropa, dunia hiburan kelas menengah di Indonesia – dan banyak negara Asia lainnya – kini dikuasai budaya pop dari negara Asia lain, jauh mengungguli dominasi budaya pop Barat, khususnya Amerika Serikat.

Heryanto, Ariel (2009) “Budaya Pop Indonesia: Kehangatan Seusai Perang Dingin”, Prisma, 28 (2, Oktober): 15-30.

kata kunci: Ayat-ayat Cinta, budaya pop, industri, Inul Daratista, K-drama, kapitalisme, Perang Dingin, Prisma, sehari-hari

Marjinalitas sebagai Fiksi

Kehidupan sosial di Indonesia kaya akan realitas seolah-olah. Maka layaklah jika dipertanyakan apakah kehidupan sosial di Indonesia merupakan lahan yang sangat subur bagi kehidupan sastra. Bahkan mungkin kehidupan sosial Indonesia itu sendiri adalah limpahan khasanah teks sastra, sastra yang hidup.

Heryanto, Ariel (1997) “Marjinalitas sebagai Fiksi”, Kolong Budaya, 2(1): 6-13.

kata kunci: Benedict Anderson, Clifford Geertz, fiksi, Kolong Budaya, marjinalitas, Putu Wijaya, sastra, seakan-akan, Telor

Perlawanan dalam Kepatuhan?

Ketika pendukung Sukarno marah terhadap beberapa pejabat Orde Baru yang menuduh Sukarno bersimpati pada Marxisme-Komunisme, kaum Sukarnois ini secara tak sengaja mendukung propaganda Orde Baru bahwa Marxisme-Komunisme itu nista dan haram.

Heryanto, Ariel (1994) “Perlawanan dalam Kepatuhan?”, Kalam, 1 (3): 10-23.

kata kunci: Barat, dekonstruksi, esensialis, hak asasi manusia, identitas, Kalam, kepatuhan, konstruksi, orientalis, perlawanan, Timur