BR 1978_12_24_SM Mahasiswa Teladan-c
“Mahasiswa Teladan”, Suara Merdeka, 24/12/1978: 5.
kata kunci: aktivitas kampus, Ariel Heryanto, Jateng, mahasiswa teladan, UKSW
BR 1978_12_24_SM Mahasiswa Teladan-c
“Mahasiswa Teladan”, Suara Merdeka, 24/12/1978: 5.
kata kunci: aktivitas kampus, Ariel Heryanto, Jateng, mahasiswa teladan, UKSW
“Teror Negara”, wawancara Ben Abel, dalam Baskara T. Wardaya (ed), Menuju Demokrasi; Politik Indonesia dalam Perspektif Sejarah, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2001, hal. 292-325.
kata kunci: 1965, pendidikan, kapitalisme, Marsinah, militer, PKI, PRD, terorisme, UKSW
WWR 2001_10_07_K Indonesia, Seni, Ketidak-acuhan-c
“Ini bukan soal kelas menengah melulu. Acuh, tidak peka, atau tidak peduli merupakan salah satu mekanisme kejiwaan banyak kalangan yang hidup tertekan dan menderita, tetapi harus terus hidup dan berjuang untuk hidup. Persis kemampuan untuk lupa. Orang yang tidak bisa lupa, atau tidak bisa acuh akan susah tidur, makan, bahkan bekerja dengan tenang. Bahkan bisa gila.”
“Indonesia, Seni, Ketidak-acuhan”, wawancara Bre Redana, Kompas, 7/10/2001.
kata kunci: gerakan mahasiswa, kesenian, pasca-Orde Baru, perubahan
WWR 2000_05_17_K Singapura Memburu Anak-anak Pintar-c
“Singapura Memburu Anak-anak Pintar”, wawancara, Kompas, 17/05/2000.
kata kunci: investasi, kebijakan, modal, mutu, pendidikan, Singapura
WWR 1999_10_10 K_Pertarungan Belum Selesai-c
“Pertarungan Belum Selesai”, wawancara Bre Redana, Kompas, 10/10/1999.
kata kunci: Bulan Bahasa, Marxisme, Sukarno, Supersemar, wacana
WWR 1999_02_10_ADIL Wiranto Pasti Bermain Di Belakang
“Wiranto Pasti Main Di Belakang”, wawancara, Adil, 10/02/1999.
kata kunci: Amien Rais, elit, pasca-Orde Baru, rakyat, Wiranto
Gaya hidup tidak tergantung pada berapa uang Anda. Gaya hidup bukan monopoli orang kaya. Sebaliknya tidak semua orang kaya punya gaya hidup yang hebat. Gaya hidup lebih merupakan ekspresi kreativitas estetika. Cuma saja pada orang kaya, ekspresi itu diterjemahkan dalam bentuk teknologi dan sejumlah acara padat-modal. Supaya tampak eksklusif.
“Hidup Tanpa Gaya Hidup”, wawancara Dedeh, Tiara, 210 (Oktober) 1998.
kata kunci: budaya, estetika, gaya hidup, kaya, kemasan, konsumsi, miskin, selera
WWR 1998_06_26_B Ada Kelompok Yang Sengaja Dikirim-c
“Ada Kelompok yang Sengaja Dikirim”, wawancara, Bernas, 26/06/1998, hal.1, 7.
kata kunci: Cina, Mei 1998, militer, perkosaan, rasisme
WWR 1997_11_10_TIRAS Kita Dilatih Takut Ber-BI-c
Tadinya memang namanya bukan bahasa Indonesia, tetapi bahasa Melayu. Dan karakternya yang terpenting adalah keterbukaan yang luar biasa. Keterbukaan untuk menerima pengaruh dari bahasa-bahasa yang macam-macam. Ini saya kira pelajaran yang terpenting untuk kita di zaman apa pun, bahwa keterbukaan dan pertemuan antarbudaya merupakan sumber dinamika dan energi yang luar biasa.
Sekarang ini kan di mana-mana banyak orang justru mengejar keaslian, kemurnian sesuatu, dan mencoba membersihkan campur-aduk percampuran berbagai macam kebudayaan. Ini justru menakutkan sekali. Justru kalau kita lihat, bahasa Melayu itu menerima apa saja. Bahasa Arab ditampung. Bahasa Portugis ditampung. Bahasa Inggris, bahasa Cina ditampung. Bahasa Jawa ditampung.
“Kita Dilatih Takut Berbahasa Indonesia”, wawancara Anton Bahtiar Rifa’i, Tiras, 3(41/ 10 Nopember) 1997: 56-58.
kata kunci: asing, bahasa, elitisme, keraton, Melayu, pedagang, terbuka
Catatan: bagian akhir terpotong.
WWR 1996_XXV-234_BUSOS Semua Mahluk di Bumi Itu Nonpri-c
“Semua Mahluk di Bumi Ini ‘Non-Pribumi’”, wawancara, Busos, XXV (234), 1996: 6-23.
kata kunci: borjuasi, Cina, etnisitas, kolonial, konstruksi sosial, material, non-pribumi, stereotipe, To Liang To