Kassandra, Siapa Yang Punya?

Klik 1994_12_11_SP Kassandra, Siapa Yang Punya-c

Di zaman ini kita dilatih bertubi-tubi sejak kecil untuk percaya, bekerja keras adalah mulia. Juga berhemat. Manusia jadi homo ekonomikus. Beristirahat, bergembira, berbelanja, dan menikmati hiburan dinyatakan sebagai musuh.

Ajaran itu tak sepenuhnya salah. Tapi bila ajaran itu dijadikan dogma sebagai kebenaran yang mutlak, maka hakikat kehidupan yang penuh nuansa menjadi terbelah dan penuh gelisah. Hiburan dianggap sebagai virus atau candu. Sedang bekerja sebagai kebajikan.

Heryanto, Ariel (1994) “Kassandra, Siapa Yang Punya?”, Surabaya Post, 11/12/1994: 8.

kata kunci: ibu rumah tangga, kenikmatan, kerja, pembantu rumah tangga, telenovela

Yang Terabaikan Dari Rekonsiliasi 2019

Indonesia merupakan proyek untuk masa depan bersama milik seluruh bangsa yang luar biasa majemuknya. Bukan warisan masa lampau yang sudah jadi atau selesai.

Perdebatan tentang ke-Indonesia-an yang dicita-citakan bersama itu belum pernah selesai. Ia menjadi proses yang terus hidup dan menampung kemajemukan Indonesia.

Heryanto, Ariel (2019) “Yang Terabaikan Dari Rekonsiliasi 2019”, Tirto, 17/07/2019, https://tirto.id/eelY

kata kunci: Arabisasi, Islami kemajemukan, Nusantara, Pilpres, toleransi

Menjadi Jawa & Muslim dalam Novel Mataram Karya Anthony Reid

Banyak yang menarik dari kisah tentang Jawa dalam Mataram. Walau ramai dibahas di awal abad 21, globalisasi adalah kenyataan sehari-hari di Jawa 400 tahun lalu. Ketegangan antara sinkretisme Islam-Jawa versus Islam fundamentalis melanda perpecahan elite kerajaan maupun kehidupan rakyat sehari-hari, bahkan dalam satu keluarga.

Heryanto, Ariel (2019) “Menjadi Jawa & Muslim dalam Novel Mataram Karya Anthony Reid”, Tirto, 7/02/2019, https://tirto.id/menjadi-jawa-amp-muslim-dalam-novel-mataram-karya-anthony-reid-dfTj

kata kunci: fundamentalis, globalisasi, Pramoedya Ananta Toer, sejarah, sinkretisme

Setengah Abad Golput

Golput dilahirkan menjelang Pemilihan Umum 1971 oleh sejumlah cendekiawan yang dibesarkan Orde Baru, di Jakarta. Mirip pembangkangan anak kepada bapaknya. Sasaran tembak mereka Golongan Karya (Golkar). Awalan “gol-“ pada golput diambil dari nama mangsanya. Logo Golkar diberi kerangka segi lima. Golput membuat logo segi lima, tapi kosong di tengahnya berwarna putih.

Heryanto, Ariel (2019) “Setengah Abad Golput”, Tempo, 10/02/2019: 38-19.

kata kunci: digital, elit, Golkar, kepercayaan, krisis, Orde Baru, Reformasi

Jin, Jender, Jenderal

Di dunia nyata, perempuan ditakut-takuti, ditindas, dan dilecehkan, tetapi di dunia fiksi dan fantasi, perempuan menakutkan (pria) setengah mati karena tidak dapat diteror dengan preman, ditembak senapan, ditindas lewat undang-undang, atau dilecehkan atas nama kodrat dan para dewa.

Nasibnya mirip dengan komunis di zaman Orde Baru. Jasadnya diganyang di dunia, tetapi rohnya ditakuti gentayangan sebagai hantu.

Heryanto, Ariel (2003) “Jin, Jender, Jenderal”, Kompas, 30/03/2003.

kata kunci: fiksi, horor, ideologi, jender, komunis, preman, Suzanna

Pop

Inul lain! Ia tidak naik panggung dan menyapa penonton dengan “Assalamu’alaikum” atau “Selamat malam hadirin”. Ia berbicara dalam bahasa Jawa Ngoko yang dianggap kasar oleh kaum priyayi.

Ia tidak bicara tentang “goyang pinggul” seperti para pembahasnya. Ia bertanya pada penonton apakah “bokong” (pantat) miliknya “gede” (besar). Ketika penonton bersorak mengiyakan, Inul menjawab “Alhamdulilah”.

Heryanto, Ariel (2003) “Pop”, Kompas, 2/03/2003.

kata kunci: budaya pop, massa, Inul Daratista, Koes Bersaudara, VCD

Mayoritas?

Klik 2003_10_12_k mayoritas-c

Kelompok “terbanyak” tidak selalu sama dengan yang terbaik dan tidak selalu berhak mendapatkan wewenang istimewa. Misalnya mayoritas orang Indonesia terlibat dalam praktik korupsi-baik sebagai korban maupun penikmat.

Heryanto, Ariel (2003) “Mayoritas?”, Kompas, 12/10/2003.

kata kunci: Cina, Inul Daratista, Jawa, korupsi, perempuan

Kebangsaan & Keagamaan: Dua Kiblat Indonesia di Persimpangan Jalan

Dari mana datangnya ketegangan antara kiblat “kebangsaan” dan “keagamaan” masa kini? Kedua kiblat mempunyai tempat terhormat dalam Pancasila. Bukan baru sekali ini ketegangan di antara mereka mengemuka. Tapi mengapa sekarang ia berkobar (lagi) dan berkepanjangan dalam sosoknya yang mutakhir?

Heryanto, Ariel (2018) “Kebangsaan & Keagamaan: Dua Kiblat Indonesia di Persimpangan Jalan”, Tirto.id, 20/11/2018, <https://tirto.id/kebangsaan-keagamaan-dua-kiblat-indonesia-di-persimpangan-jalan-c9U1&gt;

kata kunci: global, Islamisasi, krisis, nasionalisme, Orde Baru

Mengatasi Kejenuhan Debat 1965

2018_09_27_Kumparan Mengatasi Kejenuhan Debat 1965-c

Berbeda dari sebagian besar bahasan selama ini, peristiwa 1965 tidak hanya memakan korban komunis. Dan kasus Madiun 1948 tidak hanya memakan korban pada pihak lawan komunis. Keduanya kumpulan kisah dan peristiwa yang kompleks dan tidak tunggal.

Heryanto, Ariel (2018) “Mengatasi Kejenuhan Debat 1965”, Kumparan, 27/09/2018, https://kumparan.com/ariel-heryanto/mengatasi-kejenuhan-debat-1965-1538039198260112189

kata kunci: akademik, Madiun 1948, PKI, Orde Baru, publik, wacana

Pendidikan, setelah 20 tahun Reformasi

2018_05_25_Conversation Pendidikan, setelah 20 tahun Reformasi-c

Tulisan ini merujuk dua masalah utama. Pertama, sejak didirikan pemerintah kolonial hingga hari ini, lembaga pendidikan formal sekuler belum pernah menikmati otonomi dan belum dikelola secara profesional sesuai kaidah keilmuan. Kedua, perlu pemerataan kesempatan internasionalisasi bagi PT yang jauh dari Jakarta.

Heryanto, Ariel (2018) “Pendidikan, setelah 20 tahun Reformasi”, Conversation, 25/05/2018, https://theconversation.com/pendidikan-setelah-20-tahun-reformasi-97209

kata kunci: ideologi, kolonial, Orde Baru, sekolah, UKSW