Setengah Abad Golput

Golput dilahirkan menjelang Pemilihan Umum 1971 oleh sejumlah cendekiawan yang dibesarkan Orde Baru, di Jakarta. Mirip pembangkangan anak kepada bapaknya. Sasaran tembak mereka Golongan Karya (Golkar). Awalan “gol-“ pada golput diambil dari nama mangsanya. Logo Golkar diberi kerangka segi lima. Golput membuat logo segi lima, tapi kosong di tengahnya berwarna putih.

Heryanto, Ariel (2019) “Setengah Abad Golput”, Tempo, 10/02/2019: 38-19.

kata kunci: digital, elit, Golkar, kepercayaan, krisis, Orde Baru, Reformasi

Jin, Jender, Jenderal

Di dunia nyata, perempuan ditakut-takuti, ditindas, dan dilecehkan, tetapi di dunia fiksi dan fantasi, perempuan menakutkan (pria) setengah mati karena tidak dapat diteror dengan preman, ditembak senapan, ditindas lewat undang-undang, atau dilecehkan atas nama kodrat dan para dewa.

Nasibnya mirip dengan komunis di zaman Orde Baru. Jasadnya diganyang di dunia, tetapi rohnya ditakuti gentayangan sebagai hantu.

Heryanto, Ariel (2003) “Jin, Jender, Jenderal”, Kompas, 30/03/2003.

kata kunci: fiksi, horor, ideologi, jender, komunis, preman, Suzanna

Pop

Inul lain! Ia tidak naik panggung dan menyapa penonton dengan “Assalamu’alaikum” atau “Selamat malam hadirin”. Ia berbicara dalam bahasa Jawa Ngoko yang dianggap kasar oleh kaum priyayi.

Ia tidak bicara tentang “goyang pinggul” seperti para pembahasnya. Ia bertanya pada penonton apakah “bokong” (pantat) miliknya “gede” (besar). Ketika penonton bersorak mengiyakan, Inul menjawab “Alhamdulilah”.

Heryanto, Ariel (2003) “Pop”, Kompas, 2/03/2003.

kata kunci: budaya pop, massa, Inul Daratista, Koes Bersaudara, VCD

Mayoritas?

Klik 2003_10_12_k mayoritas-c

Kelompok “terbanyak” tidak selalu sama dengan yang terbaik dan tidak selalu berhak mendapatkan wewenang istimewa. Misalnya mayoritas orang Indonesia terlibat dalam praktik korupsi-baik sebagai korban maupun penikmat.

Heryanto, Ariel (2003) “Mayoritas?”, Kompas, 12/10/2003.

kata kunci: Cina, Inul Daratista, Jawa, korupsi, perempuan

Kebangsaan & Keagamaan: Dua Kiblat Indonesia di Persimpangan Jalan

Dari mana datangnya ketegangan antara kiblat “kebangsaan” dan “keagamaan” masa kini? Kedua kiblat mempunyai tempat terhormat dalam Pancasila. Bukan baru sekali ini ketegangan di antara mereka mengemuka. Tapi mengapa sekarang ia berkobar (lagi) dan berkepanjangan dalam sosoknya yang mutakhir?

Heryanto, Ariel (2018) “Kebangsaan & Keagamaan: Dua Kiblat Indonesia di Persimpangan Jalan”, Tirto.id, 20/11/2018, <https://tirto.id/kebangsaan-keagamaan-dua-kiblat-indonesia-di-persimpangan-jalan-c9U1&gt;

kata kunci: global, Islamisasi, krisis, nasionalisme, Orde Baru

Decolonising Indonesia, Past and Present

In the pursuit of an “authentically Indonesian” nation-state, for decades Indonesians have denied the civil rights of fellow citizens for allegedly being less authentically Indonesian. A key to the longstanding efficacy of such exclusionary ethno-nationalism is the failure to recognise the trans-national solidarity that helped give birth to independent Indonesia.

Ariel Heryanto (2018) Decolonising Indonesia, Past and Present, Asian Studies Review, 42 (4): 607-625, DOI: 10.1080/10357823.2018.1516733

keywords Cold War, colonial, ethnonationalism, identity, Indonesia, Indonesia Calling, Left, trans-national

Mengatasi Kejenuhan Debat 1965

2018_09_27_Kumparan Mengatasi Kejenuhan Debat 1965-c

Berbeda dari sebagian besar bahasan selama ini, peristiwa 1965 tidak hanya memakan korban komunis. Dan kasus Madiun 1948 tidak hanya memakan korban pada pihak lawan komunis. Keduanya kumpulan kisah dan peristiwa yang kompleks dan tidak tunggal.

Heryanto, Ariel (2018) “Mengatasi Kejenuhan Debat 1965”, Kumparan, 27/09/2018, https://kumparan.com/ariel-heryanto/mengatasi-kejenuhan-debat-1965-1538039198260112189

kata kunci: akademik, Madiun 1948, PKI, Orde Baru, publik, wacana

Huruf demi Huruf

Menghayati budaya baca-tulis bukan sekadar persoalan kecintaan, semangat, atau sikap mental. Kebudayaan baca-tulis juga berpijak pada hal-hal yang bersifat material, jasmaniah, dan historis di luar kendali dan pilihan hidup orang.

Konon banyak mahasiswa dari kelas bawah yang mengalami hambatan dalam proses belajar dalam masyarakat dan sekolah bermayoritas kulit putih dan kaya. Salah satu kesimpulan sementara di kalangan sarjana yang meneliti kasus ini ialah para pemuda dari kalangan yang kurang beruntung ini kuat secara fisik dan ungguI dalam berbagai kegiatan di sekolah, tetapi tidak terlatih duduk berjam-jam di depan buku di atas meja tulis, dan bergulat secara mental dengan gagasan abstrak. Tubuhnya memberontak bila dipasang berjam-jam di kursi.

Heryanto, Ariel (2004) “Huruf demi Huruf” dalam Bukuku Kakiku, St. Sularto, W.S. Brata, and P. Benedanto (eds), Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, hal. 21-40.

kata kunci: akademik, dosen, Dunia Ketiga, generasi, industri, intelektual, kelas sosial, modal, PRT

Peranakan: Yang Punah, Yang Mengglobal

Sejauh pengamatan saya, warga Tionghoa di Jawa jauh lebih majemuk ketimbang pembedaan dua kelompok yang selama ini terlanjur lazim: totok dan peranakan. Kita bisa membedakan lima kelompok yang berlainan di antara minoritas ini.

Heryanto, Ariel (2018) “Peranakan: Yang Punah, Yang Mengglobal”, dalam L. Wibisono dkk (eds) Peranakan Tionghoa Indonesia; Sebuah Perjalanan Budaya, Jakarta: Komunitas Lintas-Budaya Indonesia dan PT Intisari Mediatama, hal. 342-349.

kata kunci: budaya, Eropa, fiksi, Melayu, Orde Baru, Tiongkok