Media, Nasion, dan Sejarah

Lemahnya studi media dan kajian teori ten tang kebudayaan pada umumnya memberikan jalan mulus bagi dominasi studi politik dan ekonomi atas media massa. Di situ media massa dianggap sebagai barang mati. Ia tak lebih daripada sebuah “alat” propaganda politik penguasa untuk menindas rakyat, atau “alat” propaganda tandingan di tangan kaum oposisi untuk melawan tirani penguasa.

Heryanto, Ariel (2000) “Media, Nasion, dan Sejarah”, dalam Dedy N. Hidayat, Effendi Gazali, Harsono Suwardi, Ishadi S.K. (eds), Pers dalam “Revolusi Mei” Runtuhnya Sebuah Hegemoni, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, hal. 423-430.

kata kunci: kajian media, kekerasan, nasion, pasca-Orde Baru, reformasi, teori

Industrialisasi Pendidikan

Sejak pemerintah kolonial Belanda membuka sekolah-sekolah untuk kaum pribumi, pendidikan formal tidak pernah terlepas dari kepentingan politik ekonomi kaum yang sedang berkuasa secara politik, ekonomi, maupun budaya. Lebih tegasnya, sekolah tidak pernah semata-mata atau terutama dimaksudkan sebagai upaya “mencerdaskan kehidupan bangsa” atau memajukan ilmu pengetahuan dunia secara abstrak dan universal, atau menyejahterakan rakyat jelata.

Heryanto, Ariel (2000) “Industrialisasi Pendidikan” dalam Menggagas Paradigma Baru Pendidikan, Sindhunata (ed.), Yogyakarta: Penerbit Kanisius, hal. 35-47.

kata kunci: globalisasi, industrialisasi, internasionalisasi, mobilitas, pasar, pendidikan, perubahan

Perkosaan Mei 1998: Beberapa Pertanyaan Konseptual

Atas dasar itu, penggunaan istilah ‘kerusuhan’ yang sudah menjadi umum untuk menggambarkan peristiwa Mei tersebut menjadi layak untuk digugat. Mungkin akan lebih tepat jika peristiwa itu digambarkan sebagai pogrom atau pembantaian. Istilah ‘kerusuhan’ (riot) merujuk pada kekerasan massal dari lapisan bawah terhadap elit di kelas atasnya. Sementara itu, pembantaian dalam pengertian pogrom menunjukkan operasi kekerasan terorganisir dari lapisan atas masyarakat lerhadap massa rakyat.

Heryanto, Ariel (2000) “Perkosaan Mei 1998: Beberapa Pertanyaan Konseptual” dalam Negara dan Kekerasan Terhadap Perempuan, Nur Iman Subono (ed.), Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan, hal. 57-97.

kata kunci: bahasa, kekerasan politik, perkosaan, maskulin, Mei 1998, negara, rasisme

Pramoedya Ananta Toer: Sebuah Album Abad XX

Belum pernah ada novel Indonesia yang dikagumi sehebat dan sekaligus dikutuk sehina seperti empat novel bersambung (tetralogi) karya Pramoedya Toer yang ditulisnya dalam pengasingan di Pulau Buru.

Heryanto, Ariel (2000) “Pramoedya Ananta Toer: Sebuah Album Abad XX” dalam Seribu Tahun Nusantara, J.B. Kristanto (ed.), Jakarta: PT Kompas Media Nusantara, hal. 541-549.

kata kunci: Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer, Pulau Buru, sastra, sejarah, Sukarno

Nonpribumi: Dibiarkan, Dibaurkan, atau Dibubarkan?

Yang namanya ‘komunitas’ etnis Tionghoa (atau Jawa, Jepang, Prancis) sebenamya tidak ada. Yang ada hanya usaha rekayasa mengada-adakan komunitas itu, untuk kepentingan politik-ekonomi-budaya satu atau beberapa kelompok berkuasa.

Heryanto, Ariel (1999) “Nonpribumi: Dibiarkan, Dibaurkan, atau Dibubarkan?” dalam Pergulatan Intelektual Dalam Era Kegelisahan, Sindhunata (ed.), Yogyakarta: Kanisius, hal. 185-200.

kata kunci: etnisitas, identitas, nonpribumi, tahayul, Tionghoa

Gugatan terhadap Otoriterisme di Indonesia dan Malaysia

2004_Gugatan terhadap Otoriterisme

Heryanto, A dan Mandal, S.K. (2004) “Gugatan terhadap Otoriterisme di Indonesia dan Malaysia”, dalam A. Heryanto, A dan S.K.Mandal (eds), Menggugat Otoriterisme di Asia Tenggara, terjemahan Budiawan, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, hal. 1-46.

kata kunci: Cina, demokrasi, Indonesia, ISA, Malaysia, PKI, otoriterisme, reformasi, UMNO

Intelektual Publik, Media, dan Demokratisasi

Intelektual menjaga jarak – minimal dalam penampilan publik – dari yang berkuasa dan berharta. Tetapi, jarak itu tidak pernah total atau ekstrem. Mereka menikmati kehidupan dan perlindungan yang menyenangkan, entah secara langsung dari yang berkuasa/berharta, atau dari ketimpangan tata sosial yang ikut menguntungkan mereka.

Heryanto, Ariel (2004) “Intelektual Publik, Media, dan Demokratisasi” dalam A. Heryanto dan S.K.Mandal (eds), Menggugat Otoriterisme di Asia Tenggara, terjemahan Budiawan, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, hal. 49-118.

kata kunci: demokratisasi, industrialisasi, intelektual publik, kelas menengah, KKN, media, pasca-kolonial, Tempo, UKSW

Indonesia di Sela Kontroversi Inul Daratista

Kontroversi tentang penyanyi dangdut Inul Daratista pada tahun 2003 dapat membantu kita memahami gejolak kebudayaan, politik dan moralitas pasca-Orde Baru di Indonesia.

Heryanto, Ariel (2006) “Indonesia di Sela Kontroversi Inul Daratista”, dalam Philip Yampolsky (ed.) Perjalanan Kesenian Indonesia Sejak Kemerdekaan; Perubahan dalam Pelaksanaan, Isi dan Profesi, Jakarta: Equinox, hal. 287-295.

kata kunci: Inul Daratista, daerah, nasional, Islam, Jawa, kelas menengah, modernitas, kapitalisme global, patriarki, feminisme

Budaya Pop dan Persaingan Identitas

Pertentangan empat kekuatan ideologi utama (Kejawen, Islam, Liberalisme, dan Marxisme) sangat menentukan bingkai pembangunan negara-bangsa Indonesia, serta membingkai perdebatan produksi dan konsumsi budaya massa.

Heryanto, Ariel (2012) “Budaya Pop dan Persaingan Identitas”, dalam  A. Heryanto (ed.),  Budaya Populer di Indonesia; Identitas Mencair di Masa Pasca-Orde Baru, penerjemah Eka S. Saputra, Yogyakarta: Jalasutra, hal.1-53.

kata kunci: budaya pop, gender, identitas, Inul, Islam, Jawa, Marxis, maskulin, modernitas

Kewarganegaraan dan Etnis Cina dalam Dua Film Indonesia Pasca-1998

Perubahan apa yang telah terjadi dalam sikap dan pandangan yang ada di tengah masyarakat, terutama di dalam budaya pop, terhadap etnis minoritas Cina? Perubahan apa, jika ada, yang dapat ditemukan dalam wawasan dan pemahaman kebangsaan, serta posisi etnis minoritas ini di dalam kebangsaan itu?

Heryanto, Ariel (2012) “Kewarganegaraan dan Etnis Cina dalam Dua Film Indonesia Pasca-1998”, dalam A. Heryanto (ed.), Budaya Populer di Indonesia; Identitas Mencair di Masa Pasca-Orde Baru, penerjemah Eka S. Saputra, Yogyakarta: Jalasutra, hal.105-138.

kata kunci: Ca-bau-kan, Cina, etnis, film, Gie, Krishna Sen, peranakan, Orde Baru