Ketika Komunisme Tak Pernah Mati

Ancaman komunisme mungkin tidak nyata, meski keberadaannya sering diumumkan dan diikuti kehebohan. Ancaman komunisme ini bukan pura-pura atau sebentuk gertakan, melainkan sebentuk hyperreal

Heryanto, Ariel (2007) “Ketika Komunisme Tak Pernah Mati”, dalam Ignatius Haryanto (ed), Ketika Sensor Tak Mati-mati, penerjemah Hera Diani, Jakarta: Yayasan Kalam, hal. 152-194.

kata kunci: anomali, budaya pop, ironi, kekerasan, kepatuhan, Komunisme, palu arit, sensor, simulakra, subversi

Liberalisasi Ekonomi: Berkah Ataukah Bencana?

1997_Liberalisasi Ekonomi_ Berkah Ataukah Bencana-c

Heryanto, Ariel (1997) “Liberalisasi Ekonomi: Berkah Ataukah Bencana?”, dalam Liberalisasi Ekonomi dan Politik di Indonesia, Dawam Rahardjo and Kumala Hadi (ed.), Yogyakarta: Tiara Wacana, hal. 359-368.

kata kunci: budaya, borjuasi, ekonomi, kapitalisme, kelas menengah, komoditas, liberalisasi, swasta

Dinamika Budaya dalam Kapitalisme Indonesia

1997_Dinamika Budaya dalam Kapitalisme Indonesia-c

Heryanto, Ariel (1997) “Dinamika Budaya dalam Kapitalisme Indonesia”, dalam Ecstasy Gaya Hidup; Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia, Idi Subandy Ibrahim (ed.), Bandung: Mizan Pustaka, hal. 249-254.

kata kunci: budaya, kritik sosial, material, romantisme, seni, struktural

Seakan-akan Pemilu

Apa yang kedengarannya seakan-akan seperti janji-janji Pemilu itu bukan dusta, bohong atau tipuan. Tidak ada yang menipu. Tak ada yang tertipu.

Massa rakyat tahu bahwa itu bukan janji. Karena itu mereka tidak pernah berminat menagih. Yang mengobral juga tahu bahwa massa tahu bahwa semua itu bukan janji yang dapat ditagih. Karena itu yang mengobral omongan kampanye tidak punya beban pikiran apa konsekuensinya kelak.

Heryanto, Ariel (1996) “Seakan-akan Pemilu” dalam Mendemokratiskan Pemilu, Ifdhal Kasim (ed.), Jakarta: ELSAM, hal. 79-109.

kata kunci: Golput, pencitraan, demokrasi, massa, pemilu, perlawanan, seakan-akan, simulacra, subversi, wacana

Pelecehan dan Kesewenang-wenangan Berbahasa; Plesetan dalam Kajian Bahasa dan Politik di Indonesia

Plesetan seringkali diperdebatkan terutama dalam fungsinya sebagai tanggapan politik kaurn yang lemah terhadap tata sosial dan penguasa yang lalim. Dalam perdebatan semacam itu sering terjadi polarisasi di antara mereka yang meyakini plesetan sebagai senjata ampuh kaum lemah melawan mereka yang mengingatkan bahwa plesetan bukanlah senjata perlawanan tetapi hanyalah sebentuk pelarian diri dari kenyataan yang sulit.

Heryanto, Ariel (1996) “Pelecehan dan Kesewenang-wenangan Berbahasa; Plesetan dalam Kajian Bahasa dan Politik di Indonesia” dalam PELLBA 9; Pertemuan Linguistik Lembaga Bahasa Atma Jaya Kesembilan, Bambang Kaswanti Purwo (ed.), Yogyakarta: Kanisius, hal. 105-127.

kata kunci: bahasa, dekonstruksi, Jawa, plesetan, politik, post-strukturalisme

Lanjutkan membaca Pelecehan dan Kesewenang-wenangan Berbahasa; Plesetan dalam Kajian Bahasa dan Politik di Indonesia

Kajian Budaya Menjelang Abad 21

Masalah utama di Indonesia selama setengah abad terakhir bukannya Marxisme telah dibenci dan dimusuhi. Yang jadi masalah, wawasan modern yang mendunia itu tidak pernah diajarkan di sekolah dan kampus, sehingga dapat dipahami seluk-beluknya. Terlepas mau ditolak atau disambut. Mirip nasib Islam di luar negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim.

Tulisan ini merupakan percobaan pertama oleh penulisnya untuk melacak sumbangan intelektual dan politik Marxisme Eropa bagi kebudayaan Indonesia, termasuk salah satu ragamnya yang dikembangkan oleh LEKRA ditahun 1960an. Makalah ini disampaikan secara lisan dan terbuka di depan publik yang selama ini dianggap menjadi pewaris lawan utama LEKRA di tahun 1960an, yakni Pusat Kesenian Taman Ismail Marzuki. Adu fisik di antara beberapa pendukung kedua kubu di tempat pertemuan nyaris meledak dan mengancam jalannya pertemuan tersebut.

Heryanto, Ariel (1996) “Kajian Budaya Menjelang Abad 21”, dalam Refleksi Kebudayaan, Jakarta: Panitia Dialog Terbuka Refleksi Kebudayaan, hal. 5-22.

kata kunci: kajian budaya, kultural, LEKRA, Manifes Kebudayaan, Marxisme, struktural

Memperjelas Sosok yang Samar

Dengan pemetaan seperti itu, kita tidak akan mencari kelas menengah berdasarkan jumlah gaji, harta atau tingkat dan pola konsumsi yang diperkirakan berada di tengah-tengah kelompok lain yang serba berlebih (kelas atas) dan mereka yang serba berkekurangan (kelas bawah). Kelas menengah bukanlah kapitalis kecil atau proletariat besar.

Heryanto, Ariel (1993) “Memperjelas Sosok yang Samar”, Kata Pengantar, dalam Politik Kelas Menengah Indonesia, Richard Tanter and Kenneth Young (eds.), Jakarta: LP3ES, hal. ix-xxv.

kata kunci: borjuis, gaya hidup, identitas, ideologi, kapitalisme, kelas menengah, konsep, Marxisme, sosok